Chief Editor/Content Director

Menyelamatkan Hutan dari Akar Masalahnya

Indonesia kerap merayakan berbagai capaian konservasi hutan. Angka deforestasi disebut menurun. Kawasan lindung bertambah. Program rehabilitasi lahan terus diumumkan. Namun, di balik optimisme itu, kenyataan di lapangan sering menghadirkan cerita yang berbeda. Hutan terus menyusut, satwa kehilangan habitat, sungai tercemar, dan konflik agraria tak kunjung selesai. Masalahnya bukan terletak pada kurangnya slogan penyelamatan hutan. Yang

Menyelamatkan Hutan dari Akar Masalahnya Read More »

Jadi Petani Seperti Ilmuan

“Bang, jadi petani itu capek ya?” tanya Rahmat sambil memandangi tanaman yang baru selesai disiangi. “Sibuk, Mat. Tapi bukan sekadar sibuk bekerja. Yang lebih penting adalah memahami kehidupan yang sedang kita rawat.” Rahmat mengernyit. “Maksudnya?” “Banyak orang mengira petani hanya menanam, memupuk, lalu panen. Padahal petani yang baik harus mengerti tata air, membaca iklim, mengenali

Jadi Petani Seperti Ilmuan Read More »

Official Website

“Mengapa Website?” “Bang, saya masih penasaran,” tanya Rahmat suatu sore. “Mengapa IKHW begitu serius mengelola website? Bukankah media sosial sudah cukup?” Saya tersenyum. “Pertanyaan bagus. Media sosial itu seperti pasar. Ramai, cepat, dan kadang gaduh. Tapi website adalah rumah.” “Dan rumah yang baik selalu memiliki pintu yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memberi kontribusi.”

Official Website Read More »

Pena yang Setia

Ihan Nurdin, Jurnalis Independen yang Paling Sering Mengabarkan Giat Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf Di tengah derasnya arus berita yang cepat datang lalu cepat pula hilang, ada cerita-cerita yang bertahan justru karena ditulis dengan sabar. Tentang pohon yang tumbuh perlahan. Komunitas yang bekerja tanpa perayaan besar. Orang-orang yang percaya bahwa merawat hutan adalah kerja panjang lintas

Pena yang Setia Read More »

Yang Datang Paling Awal

“Bang,” kata Rahmat suatu sore, ketika halaman ikhw.org baru saja selesai diperbarui, “kenapa abang selalu ingat nama orang-orang yang pertama mendukung gerakan ini?” Saya tersenyum. Di luar, angin bergerak pelan. Daun-daun seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar terlalu jelas. “Karena,” jawab saya, “orang yang datang di awal itu datang bukan saat kita

Yang Datang Paling Awal Read More »

Teduh yang Bekerja

Matahari di hutan wakaf siang itu sedang tegak. Jalan berbatu memantulkan cahaya. Udara di kawasan terbuka terasa kering dan menyengat. Tetapi beberapa langkah memasuki jalur hutan, keadaan berubah pelan-pelan. Cahaya menjadi remang yang lembut. Angin bergerak lebih tenang. Tanah terasa menyimpan dingin. Tubuh menangkap sesuatu yang sederhana, tetapi nyata: hutan sedang bekerja. Bukan kerja yang

Teduh yang Bekerja Read More »

Membaca Ulang SDGs dari Akar Komunitas

Wakaf Hijau dan Ilusi Pembangunan Global: Membaca Ulang SDGs dari Akar Komunitas Di banyak forum pembangunan hari ini, Sustainable Development Goals (SDGs) diperlakukan hampir seperti doktrin universal—sebuah bahasa tunggal yang dianggap mampu menjelaskan, mengarahkan, bahkan menyelesaikan berbagai krisis global: kemiskinan, degradasi lingkungan, hingga ketimpangan sosial. Namun pertanyaannya jarang diajukan secara jujur:apakah semua solusi harus datang

Membaca Ulang SDGs dari Akar Komunitas Read More »

Antitesis Hutan Wakaf

Pagi belum tinggi di hutan wakaf, di Aceh Besar. Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan ketika beberapa orang berjalan menanjak menuju lereng. Sebagian memanggul bibit. Sebagian lain membawa cangkul. Jalannya tanah merah, di beberapa titik licin selepas hujan malam. Dari kejauhan terdengar suara burung bersahutan. Tak ada seremoni di sana. Orang-orang itu datang seperti

Antitesis Hutan Wakaf Read More »