Yang Datang Paling Awal

“Bang,” kata Rahmat suatu sore, ketika halaman ikhw.org baru saja selesai diperbarui, “kenapa abang selalu ingat nama orang-orang yang pertama mendukung gerakan ini?”

Saya tersenyum. Di luar, angin bergerak pelan. Daun-daun seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak ingin kita dengar terlalu jelas.

“Karena,” jawab saya, “orang yang datang di awal itu datang bukan saat kita ramai.”

Rahmat diam.

“Mereka datang,” lanjut saya, “waktu jalan masih tanah. Waktu belum ada yang yakin. Waktu yang terlihat cuma niat… dan kadang-kadang keberanian yang belum tentu cukup.”

Rahmat menatap sebentar, lalu bertanya lagi.

“Jadi menghargai mereka itu semacam balas budi?”

“Bisa iya. Tapi lebih dari itu.”

“Lebih dari itu?”

“Lebih dari sekadar terima kasih. Mereka yang pertama percaya itu seperti batu pertama di pondasi. Orang sering melihat rumah yang berdiri. Jarang ada yang menunduk memikirkan batu yang ditanam paling awal.”

Ia tertawa kecil.

“Kalau begitu, bagaimana caranya menghargai mereka?”

Saya memandang ke arah pepohonan. Ada banyak hal di hutan yang tumbuh diam-diam. Akar misalnya. Tidak kelihatan, tapi justru itu yang menahan semuanya.

“Sebut nama mereka,” kata saya pelan. “Bukan untuk formalitas. Tapi supaya mereka tahu kita tidak lupa.”

“Di depan umum?”

“Kalau perlu. Dalam sambutan. Di tulisan. Di media sosial. Kadang manusia tidak butuh perayaan. Ia cuma ingin tahu: kehadirannya pernah berarti.”

Rahmat mengangguk.

“Lalu?”

“Berikan sesuatu yang sederhana tapi berkesan. Tidak harus mahal. Kadang sebuah laman yang bercerita tentang mereka, atau sepotong foto kenangan di Instagram. Bisa juga secarik tulisan tangan.”

“Kenapa tulisan tangan?”

“Karena di situ ada waktu yang kita luangkan. Dan waktu itu selalu terasa tulus.”

Rahmat tersenyum.

“Terus?”

“Jangan hilang setelah itu.”

Ia tertawa.

“Itu sering kejadian ya, Bang?”

“Sering. Orang diingat saat dibutuhkan. Setelah semuanya berjalan, dilupakan. Padahal hubungan itu seperti merawat pohon. Tidak cukup menanam. Harus terus dirawat.”

Rahmat memandang jauh.

“Berarti kabari terus perkembangan IKHW?”

“Ya. Ceritakan apa yang tumbuh. Apa yang berhasil. Apa yang gagal. Orang yang pernah ikut di awal biasanya senang melihat benih yang dulu ia bantu kini mulai berakar.”

Rahmat lalu bertanya pelan.

“Perlu juga diberi prioritas?”

“Kadang iya.”

“Supaya merasa istimewa?”

“Bukan sekadar istimewa. Tapi supaya mereka tahu: kita ingat urutan langkah. Bahwa sebelum banyak tangan datang, tangan mereka sudah lebih dulu mengulurkan diri.”

Ia menghela napas.

“Kalau mereka juga punya usaha atau perjuangan sendiri?”

“Dukung balik.”

“Sebisa kita?”

“Sebisa hati kita.”

Rahmat terdiam cukup lama.

Senja turun perlahan. Ada warna jingga yang menyentuh daun-daun.

Lalu ia berkata, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri:

“Berarti menghargai orang yang datang di awal itu soal menjaga ingatan.”

Saya mengangguk.

“Ya.”

“Dan integritas?”

“Juga itu.”

“Karena sukses kadang membuat orang lupa.”

Saya tersenyum.

“Hutan mengajarkan sebaliknya, Mat.”

“Bagaimana?”

“Pohon setinggi apa pun tidak pernah memutus hubungan dengan akarnya.”

Ia menatap saya.

Dan sore itu terasa sederhana sekali.

Seperti hutan.

Tenang.

Tapi menyimpan pelajaran yang panjang:

bahwa yang pertama percaya, meski datang saat keadaan masih sepi dan belum pasti, pantas dikenang lebih lama dari perayaan yang datang belakangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *