Lanskap Pengalaman

Firman, relawan hutan wakaf menunjuk ke daftar yang terpahat di prasasti hutan wakaf. Tangannya terangkat, seperti ingin menghubungkan yang tertulis dengan yang tumbuh di sekelilingnya. Hutan ini bukan sekadar kumpulan batang dan daun. Ia adalah pernyataan, atau mungkin pertanyaan tentang kepemilikan.

Wakaf.

Kata itu datang dari masa lampau, dari dunia di mana manusia percaya bahwa sesuatu bisa dilepaskan, agar menjadi milik yang lebih luas dari dirinya sendiri. Tapi di sini, di tanah yang basah oleh akar dan serasah, wakaf tidak lagi sekadar hukum atau akad. Ia menjelma lanskap.

Para tamu riset mendengar. Mungkin mereka mencatat. Mungkin mereka mengukur; luas lahan, jenis pohon, potensi karbon – dengan kepastian yang bisa diuji ulang. Tapi hutan ini tampaknya memang tidak sepenuhnya tunduk oleh rumus.

Sebab di sini, sesuatu yang lain sedang berlangsung.

Ada upaya untuk mengembalikan relasi yang lama retak: antara manusia dan tanah, antara niat dan tindakan. Wakaf hutan bukan sekadar konservasi, ia semacam koreksi diam-diam terhadap cara kita memahami “memiliki”. Di dunia yang terburu-buru menamai, mengklaim, dan mengeksploitasi, konsep ini justru meminta kita berhenti sejenak, lalu melepaskan.

Tapi melepaskan, rupanya, bukan perkara sederhana.

Di wajah-wajah yang mengelilingi batu itu, ada rasa ingin tahu, tapi juga jarak. Mereka datang sebagai peneliti, dengan metodologi, dengan hipotesis. Sementara hutan ini berdiri sebagai sesuatu yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan. Ia lebih dekat ke pengalaman daripada data.

Angin bergerak pelan. Daun-daun berbisik tanpa bahasa yang bisa ditranskrip. Seorang dari mereka mengangkat telepon, mengabadikan momen. Barangkali, di layar kecil itu, semuanya tampak lebih jelas: objek, subjek, fokus.

Tapi hutan tidak pernah benar-benar fokus. Ia menyebar.

Dan mungkin di situlah letak keganjilannya, sekaligus keindahannya. Wakaf hutan tidak menawarkan jawaban yang tegas. Ia hanya membuka kemungkinan: bahwa ada cara lain untuk hadir di bumi ini, tanpa harus selalu menjadi pemilik.

Firman, yang menunjuk tadi menurunkan tangannya. Penjelasan selesai, atau mungkin belum pernah benar-benar dimulai. Karena apa yang ingin disampaikan tidak seluruhnya bisa diucapkan.

Selebihnya, biarlah hutan yang berbicara.

ikhw.org

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *