Membaca Ulang SDGs dari Akar Komunitas

Wakaf Hijau dan Ilusi Pembangunan Global: Membaca Ulang SDGs dari Akar Komunitas

Di banyak forum pembangunan hari ini, Sustainable Development Goals (SDGs) diperlakukan hampir seperti doktrin universal—sebuah bahasa tunggal yang dianggap mampu menjelaskan, mengarahkan, bahkan menyelesaikan berbagai krisis global: kemiskinan, degradasi lingkungan, hingga ketimpangan sosial.

Namun pertanyaannya jarang diajukan secara jujur:
apakah semua solusi harus datang dari kerangka global?
Dan lebih jauh lagi, apakah SDGs benar-benar netral?

Pengalaman praksis Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW) di Aceh menjadi menarik untuk dibaca—bukan sebagai penolakan mentah terhadap SDGs, tetapi sebagai upaya membongkar asumsi-asumsi yang selama ini diterima tanpa cukup refleksi.

SDGs: Antara Bahasa Global dan Kepentingan yang Tersembunyi

SDGs lahir dari konsensus internasional yang luas, tetapi konsensus tidak selalu identik dengan keadilan. Dalam praktiknya, SDGs sering kali membawa beberapa problem mendasar:

Pertama, universalisasi solusi.
Masalah yang sangat kontekstual—seperti degradasi lahan di Aceh—diletakkan dalam kerangka indikator global yang seragam. Ini berisiko mengabaikan kompleksitas sosial, budaya, dan spiritual yang justru menjadi kunci penyelesaian di tingkat lokal.

Kedua, dominasi pendekatan teknokratis.
SDGs cenderung menerjemahkan keberlanjutan dalam bentuk angka, indikator, dan target. Hutan diukur dari tutupan lahan, karbon, atau indeks biodiversitas—tetapi jarang disentuh sebagai ruang hidup yang memiliki makna spiritual dan relasi kultural.

Ketiga, potensi agenda elit global.
Tidak semua aktor dalam ekosistem SDGs berada dalam posisi setara. Negara-negara berkembang sering kali menjadi “pelaksana”, sementara arah besar tetap ditentukan oleh struktur global yang lebih kuat secara ekonomi dan politik. Dalam situasi ini, pembangunan berkelanjutan bisa berubah menjadi instrumen baru dari ketimpangan lama, hanya dengan wajah yang lebih hijau.

Wakaf Hijau: Jalan Sunyi yang Tidak Bergantung pada Agenda Global

Berbeda dengan pendekatan berbasis proyek yang sering mengikuti logika SDGs, Wakaf Hijau tumbuh dari tradisi yang jauh lebih tua—bahkan sebelum istilah “sustainability” menjadi wacana global.

Dalam praktiknya di Aceh, yang dilakukan IKHW bukanlah “mengimplementasikan SDGs”, melainkan:

  • Menghidupkan kembali wakaf sebagai sistem sosial-ekologis
  • Mengelola lahan sebagai amanah, bukan aset ekonomi semata
  • Membangun konservasi berbasis kesadaran spiritual, bukan sekadar insentif finansial

Di sini, hutan tidak dilihat sebagai “resource”, tetapi sebagai titipan yang harus dijaga lintas generasi.

Pendekatan ini menghasilkan sesuatu yang sering gagal dicapai oleh program pembangunan global:
komitmen jangka panjang yang organik.

Meluruskan Narasi: Dari “Konflik Lahan” ke Resolusi Struktural

Salah satu narasi yang sering muncul dalam kerangka pembangunan adalah bahwa pengelolaan lahan selalu berpotensi konflik. Namun dalam konteks Wakaf Hijau, asumsi ini tidak sepenuhnya relevan.

Konsep wakaf justru menghadirkan model yang secara struktural:

  • Menghapus logika kepemilikan individual yang spekulatif
  • Menetapkan tujuan penggunaan lahan secara permanen
  • Mengikat pengelolaan dalam kerangka amanah sosial dan keagamaan

Dalam pengalaman IKHW, lahan yang diwakafkan:

  • Tidak menjadi objek perebutan
  • Tidak mudah dialihfungsikan
  • Tidak masuk dalam siklus ekonomi ekstraktif

Alih-alih menjadi sumber konflik, wakaf justru bekerja sebagai mekanisme pencegahan konflik sejak awal.

Masalah yang lebih nyata bukanlah konflik, tetapi:

  • minimnya literasi wakaf produktif
  • keterbatasan kapasitas pengelolaan
  • dan belum terintegrasinya sistem ini dalam kebijakan formal

Antara Adaptasi dan Resistensi: Posisi IKHW terhadap SDGs

IKHW tidak menolak SDGs secara total. Tetapi juga tidak menerimanya tanpa kritik.

Posisi yang diambil lebih mendekati sikap berikut:

  • SDGs digunakan sebagai alat komunikasi global, bukan sebagai fondasi nilai
  • Prinsip utama tetap bertumpu pada maqashid syariah dan kearifan lokal
  • Setiap adopsi dilakukan secara selektif dan kontekstual

Dalam pengertian ini, Wakaf Hijau bukan bagian dari SDGs.
Justru sebaliknya:
SDGs hanya salah satu lensa untuk membaca sebagian kecil dari apa yang sudah lama hidup dalam praktik wakaf.

Penutup: Mencari Arah dari Akar, Bukan dari Atas

Krisis lingkungan hari ini bukan hanya krisis teknis, tetapi juga krisis cara pandang. Ketika solusi terlalu sering dicari dari atas—dari kerangka global, indikator, dan agenda besar—kita perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat apa yang sudah ada di sekitar kita.

Wakaf Hijau menunjukkan bahwa:

  • keberlanjutan tidak selalu harus dirancang
  • kadang ia hanya perlu dihidupkan kembali

Di tengah dominasi narasi global seperti SDGs, pendekatan wakaf hijau ini mungkin terlihat sunyi, bahkan marginal. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Ia tidak bergantung pada tren.
Tidak bergantung pada proyek.
Dan tidak bergantung pada legitimasi global.

Ia bertumpu pada sesuatu yang lebih dalam:
kepercayaan, amanah, dan hubungan manusia dengan alam yang tidak terputus oleh waktu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *