Ada ukuran keberhasilan restorasi hutan yang tidak pernah masuk tabel.
Bukan berbentuk persentase tutupan lahan.
Tidak berupa jumlah bibit yang tumbuh.
Ukuran itu datang dengan suara mesin.
Ngeeng…..Ngeeeng….
Gergaji.
Ketika para penebang liar mulai datang kembali, lengkap dengan peralatannya, barangkali kita boleh bertanya: apakah hutan itu sedang gagal?
Atau justru sedang berhasil?
Pertanyaan yang buruk, tentu.
Tetapi pertanyaan yang buruk kadang lebih berguna daripada jawaban yang terlalu cepat.
Sebab orang jarang membawa gergaji ke tempat yang sama sekali tak bernilai.
Ke lahan gundul, mereka tidak perlu.
Ke semak belukar, mereka malas.
Ke hutan yang tak lagi memiliki pohon berharga, mereka tidak datang.
Mereka datang ketika pohon-pohon sudah cukup besar untuk dihitung dalam rupiah.
Di situ terdapat sebuah ironi kecil.
Restorasi membuat hutan bernilai.
Nilai membuat hutan kembali terancam.
Begitulah manusia.
Kita menanam pohon agar ia tumbuh.
Kemudian, ketika ia tumbuh, kita mulai berpikir untuk menebangnya.
Barangkali pohon tidak pernah benar-benar mengerti manusia.
Dalam laporan proyek, keberhasilan biasanya tampak indah.
Seribu bibit ditanam.
Delapan ratus tumbuh.
Lima ratus meter persegi direhabilitasi.
Ada foto orang tersenyum.
Ada tangan memegang bibit.
Ada spanduk.
Semua tampak baik-baik saja.
Tetapi hutan mempunyai cara sendiri untuk membuat laporan yang lebih jujur.
Ia tidak menulis. Tapi tumbuh.
Dan ketika pohon-pohon itu mulai besar, seseorang datang membawa parang.
Kemudian seseorang lain membawa gergaji.
Mereka tidak perlu laporan restorasi.
Mereka membaca batang, diameter, jenis kayu, dan harga pasar.
Mungkin itulah audit paling sederhana yang pernah dilakukan terhadap sebuah hutan.
Sebuah gergaji tidak punya kepentingan pada narasi konservasi.
Ia hanya bertanya:
berapa nilai pohon ini?
Di sini kita menemukan persoalan yang lebih dalam. Restorasi sering dipahami sebagai pekerjaan mengembalikan hutan.
Padahal mungkin yang lebih sulit adalah mengembalikan hubungan manusia dengan hutan.
Pohon bisa ditanam dalam satu pagi. Tetapi rasa hormat kepada pohon tidak tumbuh secepat itu.
Kita dapat menanam seribu batang. Tetapi jika seribu orang masih menganggap hutan sebagai sesuatu yang boleh diambil ketika membutuhkan uang, kita sesungguhnya baru memulihkan vegetasi.
Belum memulihkan kebudayaan, ingatan dan belum memulihkan etika.
Ada sesuatu yang agak lucu dalam cara kita berbicara tentang hutan. Kita menyebut kayu sebagai hasil hutan, bukan air, bukan udara, bukan burung, bukan keteduhan, juga bukan kesuburan tanahnya.
Mata air yang mengalir puluhan tahun juga sering dianggap bukan hasil apa-apa.
Mungkin karena semua itu tidak bisa dibawa ke pulang.
Kayu berbeda.
Ia bisa ditumpuk.
Diukur, dijual, dibagi.
Lalu hilang dari hutan.
Maka kita perlu bertanya: apakah yang sebenarnya kita sebut “nilai” itu nilai bagi kehidupan, atau hanya nilai bagi pasar?
Sebuah pohon bisa bernilai jutaan rupiah ketika ditebang. Tetapi mungkin jauh lebih mahal ketika dibiarkan hidup. Hanya saja, harga kehidupan tidak tercetak di kertas.
Karena itu, kedatangan penebang liar sebenarnya bukan akhir dari restorasi. Ia justru awal dari ujian yang sesungguhnya.
Sebab setelah pohon tumbuh, pertanyaan berubah.
Bukan lagi:
“Apakah pohon ini hidup?”
Melainkan:
“Apakah manusia di sekitarnya bersedia membiarkannya hidup?”
Di situlah konservasi menjadi pekerjaan yang jauh lebih rumit daripada menanam pohon.
Kita bukan hanya berhadapan dengan hama, dengan kekeringan dan kebakaran.
Kita berhadapan dengan kebutuhan, kebiasaan, pasar, keserakahan—dan kadang dengan cara berpikir yang diwariskan tanpa pernah diperiksa.
Maka, jika suatu hari para penebang liar datang lengkap dengan gergajinya ke kawasan restorasi, jangan terlalu cepat merayakannya sebagai tanda keberhasilan. Tetapi jangan pula menganggapnya sekadar kegagalan. Mungkin mereka sedang mengatakan sesuatu yang tidak lazim terdengar.
“Pohon-pohon ini sudah kembali bernilai.”
Sekarang tugas kita lebih berat. Membuat manusia mengerti bahwa nilai sebuah pohon tidak berakhir pada saat ia ditebang. Bahwa ada nilai yang justru muncul karena ia tetap berdiri. Dan mungkin, pada suatu hari nanti, seseorang akan datang ke hutan dengan tangan kosong.
Ia melihat pohon.
Diam sebentar.
Lalu pulang.
Tanpa mengambil apa-apa.
Barangkali itulah indikator restorasi yang paling sulit dan paling indah.
Ketika manusia akhirnya mampu melihat pohon sebagai sesuatu yang bernilai—tanpa merasa harus memilikinya. []
Melalui donasi Anda, kami dapat terus mendokumentasikan, meneliti, dan menyebarluaskan cerita konservasi serta praktik baik pengelolaan alam agar menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. []
