
ikhw.org
Tidak semua hutan hilang karena gergaji mesin.
Sebagian lenyap secara sah—melalui izin, proposal, dan skema pendanaan hijau yang rapi di atas kertas.
Dalam satu dekade terakhir, konflik lahan di Indonesia kerap berulang dengan pola serupa: klaim negara, konsesi korporasi, proyek hijau, lalu masyarakat yang tersisih. Di beberapa kasus, program rehabilitasi justru membuka babak baru perebutan ruang hidup.
Di tengah lanskap itulah Afrizal Akmal, inisiator konservasi hutan wakaf – memilih jalur yang nyaris tidak populer: wakaf hutan.
Tidak ada kepemilikan privat. Tidak ada jual-beli lagi. Tidak ada janji hasil cepat.
“Wakaf itu membatasi,” kata Afrizal Akmal kepada ikhw.org. “Dan pembatasan adalah hal yang paling tidak disukai dalam sistem ekonomi hari ini.”
Menahan Diri sebagai Prinsip
ikhw.org: Apa yang membedakan hutan wakaf dari proyek konservasi lain?
Afrizal Akmal:
Wakaf dimulai dari larangan. Tanah tidak boleh diperjualbelikan dan tidak boleh dieksploitasi.
Di banyak proyek konservasi, yang dijaga adalah fungsi. Di wakaf, yang dijaga pertama-tama adalah etikanya.
ikhw.org: Etika seperti apa?
Afrizal Akmal:
Etika amanah. Bahwa hutan bukan aset untuk digenjot, melainkan titipan lintas generasi.
Masalahnya, sistem pendanaan hari ini tidak dirancang untuk sesuatu yang tidak bisa dipercepat.
Ketika Hijau Bertabrakan dengan Waktu
Pendanaan hijau global menuntut indikator: jumlah pohon, luasan hektare, grafik pertumbuhan.
Namun hutan tidak mengenal kalender laporan.
ikhr.org: Anda terlihat kritis terhadap skema green funding.
Afrizal Akmal:
Saya kritis terhadap logikanya.
Banyak skema bekerja seperti proyek infrastruktur: ada awal, ada akhir, ada peresmian.
Hutan tidak punya momen “selesai”.
ikhw.org: Apa risikonya?
Afrizal Akmal:
Manipulasi indikator.
Ketika yang dihitung hanya yang terlihat, yang tak terlihat akan dikorbankan—tanah adat, relasi sosial, dan keberlanjutan jangka panjang.
Konflik yang Tidak Selalu Masuk Berita
Di banyak wilayah, konflik lahan tidak selalu muncul sebagai bentrokan fisik. Ia hadir sebagai tumpukan dokumen: izin, peta, dan klaim legal yang saling meniadakan.
ikhw.org: Bagaimana hutan wakaf berhadapan dengan konflik lahan?
Afrizal Akmal:
Dengan memperlambat segalanya.
Sebelum menanam satu pohon, kami menghabiskan waktu untuk memastikan status lahan, relasi dengan masyarakat, dan kesepakatan jangka panjang.
Itu kerja paling menyenangkan—dan paling menentukan.
ikhw.org: Apakah pendekatan lambat ini efektif?
Afrizal Akmal:
Efektif jika tujuan Anda mencegah konflik sebelum meledak.
Tidak efektif jika tujuan Anda ingin cepat terlihat berhasil.
Kerja Sunyi dan Paradoks Keberhasilan
Keberhasilan konservasi sering diukur dari apa yang tampak.
Hutan wakaf justru bekerja dengan logika sebaliknya.
ikhw.org: Kerja apa yang paling penting tapi jarang terlihat?
Afrizal Akmal:
Mencegah sesuatu agar tidak terjadi.
Jika tidak ada banjir, tidak ada longsor, tidak ada konflik, maka tidak ada berita.
Dan itu paradoksnya.
ikhw.org: Jadi Anda bekerja tanpa panggung?
Afrizal Akmal:
Hutan memang tidak membutuhkan panggung.
Yang membutuhkannya biasanya manusia.
Relasi, Bukan Proyek
Dalam praktiknya, hutan wakaf bertahan bukan karena teknologi tinggi, tetapi karena relasi yang dijaga pelan-pelan.
ikhw.org: Relasi seperti apa yang dibangun?
Afrizal Akmal:
Relasi non-transaksional.
Dengan masyarakat sekitar, dengan guru dan anak-anak, dengan relawan.
Konservasi gagal ketika manusia hanya datang membawa janji, lalu pergi membawa laporan.
Menjaga agar Masa Depan Tidak Berisik
ikhw.org: Apa yang sebenarnya sedang Anda bangun?
Afrizal Akmal:
Ketahanan etika.
Supaya hutan tidak selalu dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek.
ikhw.org: Apa yang terjadi jika pendekatan ini gagal?
Afrizal Akmal:
Yang gagal bukan organisasi kami.
Yang gagal adalah masa depan—dan dampaknya akan sangat bising: bencana, krisis air, konflik sosial.
Kerja kami sunyi sekarang agar krisis itu tidak muncul dikemudian hari.
Catatan ikhw.org
Pendekatan wakaf hutan menantang cara kerja konservasi arus utama yang bergantung pada siklus proyek dan pendanaan jangka pendek. Di tengah meningkatnya konflik lahan dan komodifikasi isu hijau, model ini menunjukkan bahwa menjaga alam tidak selalu berarti menambah aktivitas—kadang justru menahan diri.