Pena yang Setia

Ihan Nurdin, Jurnalis Independen yang Paling Sering Mengabarkan Giat Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf

Di tengah derasnya arus berita yang cepat datang lalu cepat pula hilang, ada cerita-cerita yang bertahan justru karena ditulis dengan sabar. Tentang pohon yang tumbuh perlahan. Komunitas yang bekerja tanpa perayaan besar. Orang-orang yang percaya bahwa merawat hutan adalah kerja panjang lintas generasi.

Di antara sedikit nama yang memberi ruang bagi cerita semacam itu di Aceh, Ihan Nurdin muncul paling konsisten.

Sebagian mengenalnya sebagai jurnalis independen. Sebagian lain akrab dengan nama Ihan Sunrise. Jejak tulisannya memperlihatkan sesuatu yang cukup jelas: Ihan termasuk jurnalis yang paling sering dan paling tekun mengabarkan perjalanan komunitas Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW) kepada publik.

Jejak yang paling menonjol muncul pada Juni 2025.

Lewat reportase, “… Hutan Wakaf dan Konservasi Islami”, Ihan membawa pembaca masuk ke ruang yang jarang disentuh liputan lingkungan: meja kopi di Banda Aceh, percakapan tentang bentang alam, dan kegelisahan melihat hutan Aceh yang terus menyusut. Dari situ cerita bergerak menuju perjalanan panjang IKHW membangun Hutan Wakaf sejak 2012. Bukan sebagai laporan kegiatan biasa, melainkan sebagai kisah yang hidup—tentang gagasan, ikhtiar, dan keyakinan yang ditanam perlahan di atas lahan kritis.

Tulisan itu menempatkan Ihan bukan sekadar pelapor. Ia hadir seperti saksi yang berjalan bersama cerita, mendengar lebih lama, mengamati lebih dekat, dan menulis dengan ritme yang tenang.

Cara seperti itu membuat liputannya terasa berbeda.

Komunitas IKHW tidak tampil sebagai organisasi yang sedang mempromosikan program. Yang muncul justru wajah manusianya: diskusi panjang tentang konservasi, keyakinan bahwa wakaf bisa menjadi perlindungan ekologis, dan harapan bahwa hutan bisa diwariskan bukan sebagai komoditas, melainkan amanah.

Dalam ekosistem media lokal, konsistensi seperti itu jarang. Sebab isu konservasi sering kalah oleh berita politik, kriminal, atau agenda seremonial. Tapi Ihan memberi ruang khusus untuk cerita yang tumbuh pelan. Dan IKHW tampaknya menjadi salah satu yang paling sering ia sorot.

Pilihan itu terasa masuk akal.

Karena gerakan Hutan Wakaf memang punya narasi yang unik. Ia berdiri di persimpangan antara ekologi, spiritualitas Islam, filantropi, dan gerakan warga. Gagasan yang tidak mudah dijelaskan dalam satu kutipan singkat.

Butuh penulis yang bersedia menyelaminya.

Dan Ihan tampaknya memilih jalan itu. Ia menulis IKHW bukan sebagai agenda sesaat. Ia menempatkannya sebagai gerakan yang punya horizon panjang. Tentang lahan kritis yang dipulihkan, wakaf yang menjaga tanah dari jual-beli, pepohonan yang ditanam hari ini untuk menjaga air dan kehidupan esok hari.

Di situlah kekuatan Ihan sebagai jurnalis independen terasa.

Ia tidak memburu sensasi. Tetapi membangun konteks, dan merawat narasi.
Dan lewat tulisan-tulisannya, IKHW menemukan bentuk artikulasi publik yang hangat sekaligus kuat.
Publik mengenal Hutan Wakaf bukan hanya dari data capaian atau siaran pers. Tetapi dari cerita, lanskap, dan percakapan.
Dari manusia-manusia yang berdiri di tengah kepungan kebun sawit dan memilih menanam kembali hutan.

Mungkin itu sebabnya nama Ihan Nurdin layak dicatat dalam perjalanan publikasi IKHW.

Ia bukan sekadar penulis yang pernah datang lalu pergi. Ia adalah salah satu jurnalis independen yang paling setia mengabarkan denyut gerakan ini. Datang ketika ada cerita yang perlu ditulis. Mencatat ketika ada ikhtiar yang perlu dikenang. Lalu menerbitkannya ke ruang publik dengan bahasa yang sederhana, dekat, dan membekas.

Seperti hutan itu sendiri—tumbuh pelan, diam-diam, namun terus memperluas teduhnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *