“Mengapa Website?”
“Bang, saya masih penasaran,” tanya Rahmat suatu sore. “Mengapa IKHW begitu serius mengelola website? Bukankah media sosial sudah cukup?”
Saya tersenyum.
“Pertanyaan bagus. Media sosial itu seperti pasar. Ramai, cepat, dan kadang gaduh. Tapi website adalah rumah.”

“Dan rumah yang baik selalu memiliki pintu yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memberi kontribusi.”
Rahmat mengangguk pelan.
“Rumah?”
“Ya. Di media sosial orang lewat. Di website orang datang. Mereka mencari informasi yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih bisa dipercaya.”
Rahmat tampak berpikir.
“Jadi fungsi utama website itu membangun kepercayaan?”
“Itu salah satunya. Bayangkan ada seseorang di luar Aceh mendengar tentang Hutan Wakaf. Hal pertama yang ia lakukan bukan bertanya kepada tetangganya. Ia membuka internet. Jika yang ia temukan adalah website yang rapi, berisi laporan kegiatan, tulisan, dokumentasi, dan informasi organisasi yang jelas, maka kepercayaan mulai tumbuh.”
“Jadi website itu semacam wajah organisasi di dunia digital?”
“Tepat sekali. Bahkan sering kali menjadi kesan pertama.”
Rahmat lalu bertanya lagi.
“Selain membangun kepercayaan, apa lagi?”
“Website adalah ruang edukasi. Di sana kita bisa menjelaskan mengapa konservasi penting, mengapa wakaf tidak hanya soal masjid dan kuburan, mengapa hutan perlu dijaga, dan bagaimana masyarakat dapat ikut berpartisipasi.”
“Berarti website bukan sekadar papan pengumuman?”
“Jauh lebih dari itu. Website adalah perpustakaan gagasan.”
Rahmat tertawa kecil.
“Perpustakaan gagasan. Saya suka istilah itu.”
Saya melanjutkan.
“Di website juga publik bisa melihat laporan kegiatan dan laporan keuangan. Transparansi tidak cukup diucapkan. Transparansi harus ditunjukkan. Semakin terbuka sebuah organisasi, semakin besar peluang mendapatkan kepercayaan masyarakat.”
Rahmat mengangguk.
“Dan tentu soal donasi?”
“Benar. Orang yang tergerak membantu harus dipermudah. Website memungkinkan siapa pun berkontribusi dari mana saja. Tidak perlu datang ke kantor. Tidak perlu mengenal pengurus secara pribadi.”
Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan nada lebih serius.
“Kalau begitu, website ini seharusnya tidak hanya diisi oleh pengurus.”
Saya tersenyum lebar.
“Nah, itu yang sering terlupakan.”
“Maksudnya?”
“Gerakan sosial yang sehat tidak dibangun oleh satu atau dua penulis. Ia tumbuh dari banyak suara. Dari relawan, akademisi, mahasiswa, jurnalis, peneliti, pejalan hutan, fotografer, guru, bahkan masyarakat yang pernah merasakan manfaat program.”
Rahmat tampak tertarik.
“Jadi siapa pun bisa menulis?”
“Tentu. Selama tulisannya relevan dan memberi manfaat. Website organisasi nirlaba seharusnya menjadi ruang bersama. Tempat orang berbagi gagasan, pengalaman lapangan, hasil penelitian, refleksi, dan harapan.”
“Seperti jurnal publik?”
“Dalam arti tertentu, ya. Bedanya lebih hidup. Lebih dekat dengan masyarakat.”
Rahmat menatap layar laptop yang menampilkan halaman IKHW.
“Kalau semakin banyak orang menulis, bukankah narasinya akan semakin kaya?”
“Persis. Sebuah gerakan tidak akan besar karena logonya terkenal. Sebuah gerakan akan besar ketika banyak orang merasa memiliki cerita di dalamnya.”
Matahari mulai turun.
Rahmat menutup laptopnya.
“Sekarang saya paham. Website bukan sekadar kumpulan halaman internet.”
“Lalu?”
“Ia adalah rumah pengetahuan, ruang transparansi, pusat kolaborasi, sekaligus tempat orang-orang baik bertemu melalui gagasan.”
Saya mengangguk.
“Dan rumah yang baik selalu memiliki pintu yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memberi kontribusi.”