Visioner, barangkali, bukan pertama-tama soal kemampuan menebak masa depan. Ia lebih dekat pada kesediaan memandang jauh, ketika yang di depan mata justru sering kali kabur.
Ada orang-orang yang hidup dengan cemas pada hari ini—dengan segala kerumitannya—dan itu wajar. Tapi orang yang visioner punya kebiasaan lain: ia menaruh pandangannya sedikit lebih jauh dari batas cakrawala yang biasa kita lihat.
Ia membayangkan sesuatu yang belum ada, lalu memperlakukannya seakan-akan mungkin diwujudkan.
Dalam keadaan yang serba terbatas, ia tetap melihat kemungkinan. Ketika orang lain berhenti pada tembok, ia bertanya: di balik tembok ini, apa yang sedang menunggu untuk dibangun?
Karena itu, cara berpikir visioner selalu bersentuhan dengan waktu. Masa depan baginya bukan ruang kosong yang datang begitu saja, melainkan sesuatu yang pelan-pelan dipersiapkan lewat keputusan hari ini.
Ia tahu sebuah langkah kecil tak pernah benar-benar kecil; ia bisa menjadi arah. Ia paham bahwa pilihan hari ini diam-diam menentukan bentuk hari-hari yang belum datang.
Tapi menjadi visioner juga bukan semata urusan gagasan. Sebab gagasan, betapapun besar, akan tinggal sebagai angan jika tak mampu menjelma menjadi gerak bersama.
Di sini, orang visioner menjadi semacam penggerak: ia mengajak, meyakinkan, kadang menyalakan harapan ketika orang lain mulai ragu. Ia membuat sebuah cita-cita terasa dekat, dapat disentuh, dan layak diperjuangkan bersama.
Mungkin itulah sebabnya dunia bergerak karena orang-orang seperti ini: mereka yang sanggup melihat benih di dalam tanah, bahkan ketika tanah itu tampak gersang.
Mereka percaya ada yang bisa tumbuh. Dan dari keyakinan yang sederhana tapi tekun itu, perubahan sering kali benar-benar bermula.
- Esai Afrizal Akmal
