Ruang kuliah siang itu dipenuhi mahasiswa. Sebagian duduk bersandar sambil membuka laptop, sebagian lain memegang buku catatan. Di layar depan ruangan terpampang tema yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan besar: Etika Lingkungan dan Masa Depan Peradaban.
Namun kuliah umum yang berlangsung di Universitas Syiah Kuala (USK) Darussalam, Banda Aceh itu segera terasa berbeda ketika Afrizal Akmal, pembicara dari Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW) mulai berbicara bukan tentang teori-teori rumit, melainkan tentang hilangnya hubungan manusia dengan alam.
Suasana ruang perlahan menjadi tenang.
Alih-alih memulai dengan data statistik atau istilah akademik yang kaku, narasi yang dibangun justru membawa mahasiswa pada kenyataan yang lebih dekat: sungai yang mulai kehilangan debit air, hutan yang terfragmentasi, tanah longsor yang semakin sering terjadi, hingga kota-kota yang perlahan kehilangan ruang hidup ekologisnya.
Di hadapan mahasiswa, Akmal menyampaikan bahwa krisis lingkungan hari ini sesungguhnya bukan sekadar persoalan teknis konservasi. Menurutnya, kerusakan ekologis berakar dari cara pandang manusia modern yang memisahkan dirinya dari alam.
“Hutan hari ini tidak hanya kehilangan pohon. Manusia juga sedang kehilangan kesadarannya,” demikian salah satu gagasan yang mengemuka dalam kuliah umum tersebut.
Mahasiswa tampak mulai terlibat. Beberapa mengangkat telepon genggam untuk merekam. Sebagian lain mencatat kalimat-kalimat yang terdengar lebih reflektif dibanding kuliah pada umumnya.
Akmal menjelaskan bagaimana gerakan hutan wakaf di Aceh berkembang bukan hanya sebagai proyek penghijauan, tetapi sebagai upaya membangun kembali etika ekologis masyarakat. Dalam pendekatan itu, konservasi dipahami sebagai tanggung jawab moral lintas generasi—bukan sekadar program lingkungan.
Ada penjelasan tentang lahan kritis yang perlahan berubah menjadi kawasan hijau melalui restorasi berbasis masyarakat. Ada mata air yang kembali hidup. Ada satwa yang mulai kembali muncul. Ada komunitas muda yang memilih terlibat menjaga lanskap, alih-alih hanya membicarakan krisis iklim di media sosial.
Namun bagian paling menarik justru muncul ketika pembicaraan bergerak ke ranah pendidikan.
Akmal menilai kampus memiliki posisi strategis dalam menentukan arah masa depan ekologis Indonesia. Universitas, menurut mereka, tidak cukup hanya melahirkan lulusan dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi juga manusia yang memiliki keberanian etis untuk menjaga kehidupan.
Karena itu, mahasiswa diajak melihat ulang posisi mereka di tengah krisis lingkungan global. Apakah pendidikan hanya akan menghasilkan tenaga kerja industri, atau juga melahirkan generasi yang mampu merawat bumi?
Di tengah derasnya modernisasi dan orientasi pembangunan ekonomi, pertanyaan-pertanyaan itu terasa menggantung lama di dalam ruangan.
Kuliah umum tersebut kemudian ditutup dengan ajakan sederhana namun kuat: agar mahasiswa tidak hanya menjadi penonton dari kerusakan lingkungan yang terus berlangsung, tetapi ikut mengambil bagian dalam pemulihan.
Tepuk tangan panjang terdengar memenuhi ruang kuliah.
Di luar kampus, dunia mungkin terus bergerak cepat dengan segala ambisi pembangunannya. Tetapi siang itu, di dalam ruang kuliah tersebut, Akmal sedang mencoba menanam sesuatu yang lebih sunyi—kesadaran bahwa masa depan peradaban manusia pada akhirnya akan ditentukan oleh bagaimana manusia memperlakukan alamnya sendiri.
