Di Hutan Wakaf, malam tak pernah benar-benar sepi.
Ketika cahaya terakhir tenggelam di sela tajuk dan jalan-jalan setapak mulai larut dalam gelap, hutan berubah menjadi ruang yang mendengar dirinya sendiri. Jangkrik memulai ritme. Daun bergerak pelan disentuh angin. Lalu, dari kejauhan, terdengar satu suara yang khas—serak, tajam, sekejap memecah sunyi.
Itulah suara Tiyo alba .
Di banyak tempat di Sumatera burung ini dikenal sebagai Serak Jawa. Namanya mengikuti bunyinya: keras, pendek, kadang terdengar seperti panggilan yang dilemparkan dari satu sisi gelap ke sisi lain. Ia bukan suara yang merdu seperti burung pagi. Ia datang seperti penanda: bahwa ada kehidupan yang sedang bergerak ketika manusia berhenti beraktivitas.
Di Hutan Wakaf, kehadirannya sering lebih dulu dikenali lewat bunyi daripada rupa.
Kadang suaranya terdengar dari tepian hutan. Lalu beberapa menit kemudian berpindah arah. Seolah ada patroli yang berjalan di atas kegelapan. Mereka yang bermalam di kawasan ini perlahan mengenali ritmenya. Sekali terdengar. Lama menghilang. Kemudian kembali dari sisi lain.
Hutan punya caranya sendiri untuk memperkenalkan penghuninya.
Baru sesekali, jika beruntung, tubuhnya terlihat. Siluet pucat melintas rendah di antara pohon, lalu lenyap. Sayapnya lebar. Geraknya nyaris tanpa bunyi. Wajahnya khas: menyerupai hati berwarna putih gading, dengan mata gelap yang tampak menatap lurus menembus malam.
Secara ilmiah, dikenal sebagai salah satu burung hantu paling adaptif di dunia. Di Sumatera, ia hidup dekat manusia: di area persawahan, kebun, bangunan tua, juga kawasan pohon yang masih cukup rapat untuk tempat bertengger.
Namun di Hutan Wakaf, kehadirannya terasa lebih dari sekadar data satwa liar.
Ia seperti bagian dari percakapan panjang antara hutan dan malam.
Burung ini berburu dengan cara yang nyaris tak terlihat. Pendengarannya sangat sensitif. Bahkan tanpa cahaya, ia mampu mendeteksi gerak kecil tikus di tanah. Seekor dewasa dapat memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam. Sepasang bisa membantu menjaga bentang lahan yang luas dari ledakan populasi hama.
Di area yang berdampingan dengan kebun masyarakat, kehadirannya membantu menjaga keseimbangan secara alami. Tanpa racun. Tanpa jebakan. Tanpa kebisingan.
Ada sesuatu yang menarik dari cara alam bekerja seperti itu.
Yang menjaga justru sering yang tak terlihat.
Yang mengendalikan justru hadir dalam diam.
Karena itu, mendengar suara Serak Jawa di Hutan Wakaf bukan sekadar mendengar burung malam. Itu seperti mendengar ekosistem sedang berbicara dalam bahasanya sendiri.
Bahwa pohon-pohon masih menyediakan tempat singgah.
Bahwa rantai makanan masih bergerak.
Bahwa malam masih punya penjaganya.
Di tengah perubahan bentang alam yang cepat, kehadiran burung ini menjadi kabar baik yang sederhana. Ia tidak datang membawa tanda besar. Tidak mencolok. Tidak ramai.
Hanya sebuah suara serak dari kejauhan.
Lalu sunyi kembali mengambil tempat.
Namun dari suara pendek itu kita tahu: hutan belum kehilangan denyutnya.
Dan malam di Hutan Wakaf, dengan segala gelap dan diamnya, tetap dijaga oleh seekor pemburu bersayap pucat yang melintas tanpa suara—hadir sebentar, lalu hilang kembali ke pekat malam.
